Tips Berinvestasi Untuk Keluarga di Tahun Politik 2014 : Hindari Dulu Properti dan Komoditi

English: Mega Kuningan area in Setiabudi Kecam...

English: Mega Kuningan area in Setiabudi Kecamatan, South Jakarta, Jakarta, Indonesia. (Photo credit: Wikipedia)

Di tahun politik 2014 ini, disarankan untuk tidak berinvestasi di bidang properti dan komoditi, sebagaimana disebutkan oleh Manager Portofolio Schroders Investment Management Indonesia Irwanti.

 

INILAH.COM, Jakarta - Dalam berinvestasi, masyarakat yang akan berinvestasi perlu memperhatikan sektor investasi yang paling rentan untuk saat ini.
Manager Portofolio Schroders Investment Management Indonesia Irwanti mengatakan investasi yang rentan adalah investasi properti dan komoditi.


"Pertama yang perlu menjahui adalah sektor komoditas," ujar Irwanti pada“Tips Berinvestasi Untuk Keluarga di Tahun Politik 2014” di Jakarta, Selasa (28/1/2014).
Irwanti memberikan alasan perlunya hati- hati terhadap investasi komodity karena China yang selama ini impor komoditas lagi turun pertumbuhan ekonominya. Sekarang pertumbuhan ekonomi China turun dari 10% ke 7%.


Selanjutnya sektor yang perlu menjauh pada saat ini ketika berinvestasi adalah properti. Menurut Irwanti, dengan adanya kebijakan Loan To Value (LTV) Bank Indonesia (BI).


BI memaksa perbankan menerapkan LTV sebesar 30% dari harga properti, bila nasabah yang akan melakukan peminjaman kredit. "Sektor properti jauhin dulu, karena peraturan BI ngerem akan masih keluar lagi nanti, itu kira-kira," jelasnya. [hid]

Read more ...

Re/max Broker Properti Amrik Mulai Masuk Indonesia

Menariknya potensi bisnis properti di Indonesia membuat broker properti dari AS Re/max ingin ikut berkecimpung di dunia properti tanah air, seperti disebutkan di tribunnews seperti berikut

Broker Properti Asing Mulai Masuk Indonesia

Geliat bisnis properti tanah air bukan hanya menarik pengembang asing untuk masuk, melainkan juga broker asing. Buktinya, broker properti asal Amerika Serikat (AS), Re/max pun tergiur melihat prospek bisnis properti di Indonesia.

Re/max masuk ke Indonesia dengan cara memberi master waralaba kepada PT Signature Properties. Signature Properties sendiri sebelumnya bergerak di bisnis pengembang properti.

Re/max menargetkan membuka sedikitnya 25 kantor di Indonesia hingga lima tahun ke depan melalui waralaba.

"Saat ini kami sudah mengoperasikan lima kantor di Jakarta, Bekasi, dan Serpong," ujar Chief Operating Officer (COO) Re/max Indonesia,  F. Rach. Suherman, di Jakarta, Senin (27/1/2014).

Sayangnya, Suherman tidak bersedia buka-bukaan mengenai target bisnisnya di Indonesia. Yang jelas, dari setiap transaksi jual beli, Re/max akan mengambil basis komisi 3 persen. Sedangkan besarnya basis komisi untuk setiap transaksi sewa menyewa adalah 5 persen.

Menurut Suherman, kapitalisasi pasar broker properti di Indonesia ditaksir mencapai Rp 100 juta selama tahun 2014. Namun ia enggan memberi tahu target pangsa pasar yang diharapkan oleh Re/max.

Sekadar informasi tambahan, Re/max International yang berbasis di Denver, Colorado didirikan sejak tahun 1973. Saat ini jaringan Re/max meliputi lebih dari 6.000 kantor dan 90.000 agen di 90 negara.

Di AS, Re/max mengklaim menguasai 30 persen pangsa pasar broker properti. Peran broker properti diperkirakan bakal meningkat, karena saat ini, meski pertumbuhan properti secara umum melambat, pasar sewa hunian ekspatriat, khususnya di Jakarta, masih tetap stabil.

Hal ini tercermin dari tarif sewa hunian ini yang tetap masih bisa tumbuh antara 20 persen sampai 40 persen bila dibandingkan dengan semester II-2013 lalu.

Di Jakarta, daerah favorit ekspatriat belum bergeser dari Jakarta Selatan dan central business district (CBD).

"Tapi, mulai bermunculan permintaan hunian di sekitar kawasan industri di Tangerang, Bekasi, dan Karawang, terutama dari ekspatriat asal Asia," kata broker properti dari Century 21, Ali Hanafia.

Read more ...

Tahun Depan Harga Rumah Naik hingga 20 Persen

Desain-Rumah-yang-Di-Tawarkan

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Riset sentimen pasar yang digelar situs properti Rumah123.com mencatat rata-rata daya beli properti masyarakat Indonesia berkisar Rp250 juta. Yogyakarta masih menempati tiga besar area pencarian properti nasional.

Sales Manager Rumah123.com, Meddy H Papinka, mengatakan, sebanyak 23 persen responden survei tersebut siap dengan dana Rp250 juta untuk membeli properti. Mereka terutama dari keluarga muda di perkotaan.

"Dengan pertumbuhan ekonomi Indonesia yang relatif stabil 6-6,5 persen dan suku bunga yang stabil, kami percaya masyarakat punya peningkatan daya beli. Tetapi tentunya tidak drastis," ujarnya, Kamis (31/10/2013).

Berdasarkan data Rumah123.com, transaksi paling dominan untuk harga rumah Rp200 juta hingga Rp500 juta per unit. "Setiap bulan kami mencatat penjualan sebanyak 4.000 unit rumah. Yogyakarta menempati urutan ketiga pencarian properti yang diminati," kata Meddy.
Lokasi pencarian rumah untuk wilayah Yogyakarta yang mendominasi saat ini adalah Nganglik, Depok, dan Condongcatur.

"Lokasi merupakan faktor utama yang dipertimbangkan, selain di sana juga banyak pengembang-pengembang skala besar yang kredibilitasnya dapat diakui," paparnya.

Meski demikian, Meddy mengakui jumlah masyarakat yang tidak dapat memiliki properti masih cukup banyak. "Ini disebabkan terus meningkatnya harga tanah dan rumah di sejumlah daerah di Indonesia," ujarnya.

Menurutnya, pada 2012 harga properti meningkat sebesar 30 persen. Pada 2013 hingga 2014, diperkirakan harga perumahan kembali naik sekitar 15 persen hingga 20 persen.

"Harga tanah dan rumah naik terus, sementara kemampuan mereka untuk membeli satu unit rumah pun tidak terkejar. Masyarakat kita yang masih dominan memang masyarakat menengah ke bawah," katanya.

Meddy mengatakan, pencarian properti melalui dunia maya terus meningkat. Pengguna internet di Indonesia yang mencapai 55 juta orang, merupakan market yang sangat besar dalam bisnis properti.

"Trennya saat ini sudah bergeser. Orang kebanyakan mencari rumah lewat situs properti yang bisa menampilkan lebih banyak informasi mengenai properti yang di-listing," ujarnya. (*)

sumber : http://jogja.tribunnews.com/2013/11/01/tahun-depan-harga-rumah-naik-hingga-20-persen

Read more ...

Asuransi Rumah, Premi Ringan agar Tidur Nyenyak

1703072780x390

KOMPAS.com - Sebagian besar dari kita baru mengasuransikan rumah ketika masih terikat pembayaran cicilan kredit dengan bank. Setelah kredit lunas, lupalah bahwa asuransi rumah sebaiknya masih tetap terus dibayarkan karena risiko masih tetap mengancam harta kita. Apa jadinya jika rumah yang kita cicil bertahun-tahun setelah lunas terlanda banjir atau terkena amukan si jago merah ?

Ada rasa takut membayar premi asurans rumah. Padahal, premi asuransi rumah tidak semahal premi asuransi jiwa karena rumah adalah benda tidak bergerak. Perhitungan preminya pun bukan dalam persen, tetapi dalam permil sehingga premi tahunan lebih murah. Semua orang yang rumahnya dapat diakses mobil pemadam kebakaran dapat membeli proteksi properti ini.

Arfandi Arief, Direktur Personal Lines, Zurich Insurance Indonesia memberikan ilustrasi untuk premi rumah seluas 100 meter persegi. Nilai pertanggungan untuk rumah sebesar Rp 350.000.000. Nilai pertanggungan ini didapatkan dari berapa biaya pembangunan kembali rumah jika terkena musibah.

Saat ini, diperlukan dana sebesar Rp 3,5 juta untuk membangun rumah seluas satu meter persegi.Sehingga untuk membangun kembali rumah seluas 100 meter persegi diperlukan dana sebesar Rp 350.000.000. Nah, inilah yang harus menjadi nilai pertanggungan. Jika nilai pertanggungan terlalu kecil, pemilik rumah harus mengeluarkan dana lebih banyak lagi untuk membangun kembali rumahnya. Sebaliknya, jika nilai pertanggungan terlalu besar, premi yang dibayar juga harus lebih mahal.

Selain rumah, isi rumah juga dapat diasuransikan. Misalkan saja nilai pertanggungan untuk isi rumah sebesar Rp 100.000.000. Sehingga total nilai pertanggungan sebesar Rp 450.000.000. Nilai pertanggungan ini dikalikan dengan rate premi yang dihitung dengan satuan permil. Didapatkan premi per tahun sebesar Rp 675.000. Biaya premi ini belum termasuk biaya administrasi. Apakah dengan membayar premi sebesar Rp 675.000 per tahun terlalu berat di kantong ? Rasanya tidak.

Apa manfaat yang ditawarkan oleh perusahaan asuransi dengan premi sebesar itu ? Manfaat yang di dapat, meliputi : perlindungan dari kebakaran, sambaran petir, ledakan, kejatuhan pesawat, asap dan tertabrak kendaraan. Selain itu, dilindungi pula dari kerusuhan, pemogokan, perbuatan jahat orang lain, huru hara (Klausul 4.1. B). Masih lagi dilindungi dari banjir, badai, angin topan, kerusakan karena air, lalu tanah longsor, tanah amblas.

Bahkan diberikan biaya akomodasi sementara jika rumah yang diasuransikan terkena musibah dan pemiliknya harus tinggal di tempat lain untuk sementara waktu.

Perusahaan juga melindungi pemilik rumah dari gugat publik. Kematian dan biaya pengobatan akibat kecelakaan yang terjadi pada tertanggung/pasangan/anak-anak/tamu (yang terjadi di tempat tertanggung) juga akan diganti oleh perusahaan asuransi.

Bagaimana, masih enggan mengasuransikan rumah ?

sumber : http://bisniskeuangan.kompas.com/read/2013/10/24/1408415/Asuransi.Rumah.Premi.Ringan.agar.Tidur.Nyenyak

Read more ...